Sabtu, 15 Oktober 2011

how to avoid that family ecology problems...???

SOLUSI KELUARGA DALAM MENGATASI FENOMENA FREE SEX

Globalisasi tidak dapat dipungkiri lagi sangat berpengaruh saat ini. Hal tersebut berpengaruh d berbagai aspek kehidupan. Gaya hidup manusia di muka bumi pun banyak mengalami perubahan atas akibatnya. Batas akulturasi budaya menjadi kian transparan dan sulit untuk dipertegas lagi. Sebenarnya, dampak keberadaan globalisasi ini tidak hanya membawa dampak negatif atau keburukan, tetapi juga dampak positif. Semua ini namun memiliki syarat, yakni individu-individu yang akan menghadapinya harus mampu memanfaatkan globalisasi dengan sangat baik dan hati-hati.
Pembahasan kali ini mengenai beberapa solusi dari salah satu fenomena ekologi berkesan negatif, yaitu tersebar luasnya free sex di Indonesia. Free sex yang merupakan tindak pelanggaran norma ini disebabkan oleh banyak faktor lingkungan. Faktor-faktor itu adalah pengaruh lingkungan sosial dan alam. Hal ini tentu terkait dengan globalisasi karena globalisasi adalah salah satu penyebab penyebarluasannya. Selain itu, pengaruh terbesar adanya fenomena ini jatuh terhadap keluarga. Maka dari itu, dilakukan analisis mengenainya yang notabene sudah mengkhawatirkan masa depan generasi baru Indonesia.
Keluarga menjadi titik terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Alasan yang mendorong hal ini adalah dalam keluarga anak belajar banyak hal seperti menerima pengetahuan, mengenal dunia, mengenal perbedaan antara orang lain dengan dirinya, memahami perasaan orang lain, memecahkan masalah dari hal terkecil, sampai pada belajar memiliki karakteristik khas diri. Karakteristik inilah yang akan membawa perkembagan diri mereka setelah pengaruh genetik biologisnya. Oleh karena itu, tidak boleh ada keluarga yang tega membiarkan anaknya memiliki karakter buruk karena dampaknya bila terjadi  tidak hanya menyerang diri sang anak, namun juga keluarga itu sendiri hingga lingkungan luar mereka.
Solusi yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam mengatasi fenomena ekologi free sex ini di antaranya adalah dengan melakukan upaya-upaya pencegahannya. Upaya-upaya beserta uraian singkatnya adalah sebagai berikut :
ü  Orang tua senantiasa memelihara cinta dan kasih sayangnya terhadap anak-anak mereka
Orang tua yang mencintai anak-anaknya bukan berarti memelihara anak-anaknya itu sampai terlahir ke dunia saja, tepapi orang tua berkewajiban memelihara kasih sayang dan cintanya itu sampai anak dewasa nanti. Kewajiban ini pun perlu diiringi dengan banyak usaha unuk mendidik dan mendewasakannya. Bukti ini tentu akan menjadi hal teramat berharga bagi diri sang anak.

ü  Orang tua mengembangkan jiwa spiritualisme semenjak anak-anak mereka usia dini
Jiwa spiritualisme akan menumbuhkan kesehatan psikologis dan biologis dari seorang anak. Jika diajarkan dari semenak dini, tidak ada kekhawatiran bagi orang tua mengenai pembangkangan dan pembantahan. Sang anak menjadi punya alasan dan motivasi lain atas dirinya melakukan kebaikan. Selain itu, jiwa spiritualisme ini menuntun pedoman anak untuk berperilaku. Anak dapat menemukan jalan hidupnya supaya lebih terarah. Dengan demikian, anak pun nanti akan belajar untuk selalu melakukan hal-hal yang bermanfaat bukan merugikan dirinya.

ü  Mengembangkan karakter anak tanpa harus terlalu mengekangnya
Pengembangan karakter yang baik kepada seorang anak dapat dengan cara memberinya contoh panutan berakhlak baik yang dapat dimulai dari pribadi masing-masing orang tua sendiri. Dengan sendirinya, tingkah laku dan cara hidup para orang tua senantiasa menjadi perhatian anak. Ia melakukannya sebagai bagian dari pengimitasian yang akan selalu ditemui pada diri seorang anak terutama di awal perkembangannya. Oleh karenanya, ada baiknya dalam memelihara dan merawat anak orang tua tidak memberikan contoh perilaku yang buruk di hadapannya. Selain itu, pemberian ketegasan dalam berperilaku jangan sampai membuat anak tertekan. Hal seperti itu justru akan membuat anak mengulamgi perbuatan buruknya.

ü  Orang tua harus bisa meluangkan waktu unuk anak-anaknya
Inilah salah satu faktor terbesar yang dapat memperbesar pengaruh keikutsertaan mereka terhadap tindakan-tindakan yang tidak senonoh. Orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya tidak sepatutnya membiarkan anak selalu sendiri sehingga merasa kesepian terus-menerus. Anak menjadi kurang perhatian dan komunikasi. Sesibuka apapun orang tua setidaknya perlu memberikan perhatian khusus pada anaknya. Hal itu demi menaruh persepsi aman dalam diri mereka dan adanya orang-orang yang mau mengakui keberadaannya. Penerapan seperti ini akan sangat baik dilakukan karena secara tidak langsung pun anak-anak akan menerima motivasi lebih yang mendorong mereka melakukan hal-hal positif dan membangun.

ü  Penerapan budaya demokrasi dalam keluarga dalam mengambil keputusan
Budaya demokrasi yang sederhana sebenarnya dapat diterapkan mulai dari tahap keluarga. Misalnya dalam pengambilan keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke lembaga pendidikan seperti apa patut pula dibincangkan bersama seluruh pihak keluarga. Hal ini sebagai upaya membangun kerja sama yang berfokus pada satu tujan bersama. Dengan itu, setelah diambilnya keputusan yang telah disetujui bersama tidak akan ada pihak-pihak dalam keluarga yang akan merasa dirugikan. Resiko yang akan dihadapi nantinya pun menjadi tanggung jawab bersama. Begitu pula dengan setiap keuntungan yang akan diperoleh dari keputusan itu.

ü  Orang tua dan saudara kandung perlu memperhatikan dan mengawasi anak dalam menggunakan fasilitas di berbagai jenis media massa dan media elektronik
      Media massa sebagai salah satu alat komunikasi masih memegang peran penting yang selalu dibutuhkan oleh manusia di dunia. Segala informasi dapat dengan mudah diakses saat ini oleh keberadaannya. Media massa menjadikan manusia lebih praktis dan mudah berhubungan dengan orang lain dalam hal pekerjaan, pendidikan, hiburan, dan sebagainya. Namun, tidak selamanya peran positif ini hadir mengiringi perkembangannya yang merancah banyak aspek kehidupan di dunia. Ada hal negatif yang dapat mengancam masa depan generasi baru bangsa. Kehadirannya yang semakin fleksibel dan terbuka sangat membebaskan banyak informasi. Salah satunya yaitu informasi yang seharusnya belum dapat diakses atau diketahui oleh generasi penerus berdasarkan umur mereka. Inilah pengaruh tertajam free sex mngelabuhi dunia pemuda-pemudi Indonesia. Lewat media massa pula globalisasi semakin merajalela datang dengan dampak-dampaknya.
      Keluarga begitu diperlukan dalam mengawasi anak-anaknya saat mengakses media massa demi terhindar dari dampak negatif yang ada. Ada berbagai macam informasi-informasi yang harus disaring keamanannya. Penyebarluasan budaya seks bebas yang sebenarnya bukan budaya Indonesia dapat mereka akses dari berbagai macam jais media tersebut. Misalnya saja dari majalah, koran, situs-situs web luar negeri atau dalam negeri, film-film yang beredar, novel, komik, dan sebagainya.

ü  Lakukan perawatan dan perlindungan fisik serta psikis yang baik kepada anak
      Kewajiban keluarga, terutama orang tua, yang terpenting yaitu melindungi kesehatan rohani dan jasmani anak. Berikan perlindungan terbaik dengan mengajarkan serta menerapkan di kehidupan sehari-hari mengenai pola hidup sehat. Dari segi perawatan jasmani, bila anak sakit, lakukan perhatian ekstra. Berikan stimulus yang baik yang mendorong pikiran positif mereka dan keyakinannya akan suatu kesembuhan. Jaga selalu pola makan anak dengan pengawasan yang baik dan tidak berlebihan. Segala sesuatu yang masuk ke dalam perutnya perlu diawasi supaya tidak ada ancaman terhadap kesehatan anak. Selanjutnya, untuk segi rohaninya, jagalah selalu perhatian serta kasih sayang orang tua. Pedulilah terhadap mereka dengan bersifat terbuka. Jika anak mengalami masalah, ia pun menjadi tidak ragu untuk menceritakannya. Selain itu, dalam melakukan setiap hubungan komunikasi, ciptakanlah suasana yang menyenangkan dan rileks.

ü  Mendorong anak untuk mengembangkan  potensi diri yang ia miliki
      Setiap anak terlahir dengan bakat alami yang dimilikinya. Oleh karena itu, orang tua harus memberikan motivasi dan berusaha mengembangkan bakat-bakat yang dimiliki anaknya. Jika anak tidak dapat mengeksplorasi potensi yang ada dalam dirinya, anak akan kehilangan orientasi dalam bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga anak akan mudah terpengaruh ke dalam pergaulan yang tidak baik.

ü  Memberi keleluasaan pada anak untuk menyalurkan hobinya
      Setelah orang tua memahami potensi-potensi anaknya, maka selanjutnya diperlukan keleluasaan pada anak untuk menyalurkan hobinya dalam menggali dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Hal ini diperlukan  agar terciptanya anak yang berorientasi dalam setiap aktivitasnya.


ü  Melakukan rekreasi keluarga minimal sebulan sekali
Menjalani rutinitas hidup sehari-hari mulai dari sekolah, bekerja, dan hal lainnya tentu setiap manusia mengalami kejenuhan akan aktivitasnya tersebut. oleh karena itu, keluarga harus menyempatkan waktu di akhir pekan minimal sebulan sekali untuk menghilangkan kepenatan dan untuk mempererat keharmonisan dalam keluarga. Rekreasi ini harus dilakukan untuk meberikan kesan terhadap anak bahwa ornag tua mereka tetap peduli akan ank-anaknya walaupun orang tuanya sibuk dengan pekerjaan. Sehingga anak tidak merasa terabaikan, jika anak merasa diabaikan maka anak juga bersikap acuh terhadap dirinya sendiri, hal ini dapat merusak mental anak.

ü  Memberi wawasan kepada anak tentang dampak masalah sosial
Seorang anak harus ditanamkan dan diajari nilai-nilai sosial yang terdapat dalam masyarakat. Begitu juga dengan dampak yang dimilikinya, agar anak mengetahui akan akibat-akibat apa yang ditimbulkan dari masalah sosial tersebut(dalam hal ini free sex). Salah satu contoh hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mengunjungi lembaga rehabilitas untuk menjelaskan kepada mereka akibat dari pergaulan bebas. Setelah anak mengerti dan memahami, anak diharapkan dapat menghindari hal-hal tersebut.

ü  Pendidikan seks harus diberikan sejak dini
Pemberian pendidikan seks kepada anak ini masih mengalami pro dan kontra dikalangan masyarakat. Namun, kami menganggap bahwa pendidikan seks sejak dini harus diajarkan kepada anak. Pendidikan seks disini bukan berarti menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan usia anak, namun pendidikan disini lebih kepada aspek akibat dan nilai-niali moral yang terdapat didalamnya. Tentunya pemberian pendidikan ini harus disertai dengan pendidikan agama yang cukup dan sewajarnya kepada anak agar free sex dapat dihindari.

ü  Menjaga komunikasi antaranggota keluarga
Setiap individu pasti berinteraksi dengan orang lain. Begitu halnya dengan keluarga, komunikasi disini menjadi hal yang sangat penting bagi terciptanya keharmonisan. Tidak hanya sekedar berkomunikasi, namun setiap anggota keluarga harus selalu menjaga komunikasi tersebut dimana saja, kapan saja, dan sesibuk apapun harus tetap menjaga komunikasi. Hal ini diharapkan agar orang tua dan anak saling menciptakan rasa percaya di dalam diri masing-masing dan mengetahui segala aktivitas , sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan keluarga.

ü  Membuat anak agar dapat lebih bebas dalam mengemukaan dan menceritakan masalahnya kepada orang tua
Keluarga harus menciptakan sistem yang demokratis, dimana anak dapat dengan bebas mengemukakan pendapatnya dan terbuka terhadap orang tua. Kebebasan ini harus tetap diiringi dengan rasa hormat dan tata cara penyampaian pendapat yang baik. Hal ini diharapkan dapat menjadi suatu cara yang ampuh untuk mengatasi free sex tersebut.  Jika anak terbuka dengan orang tuanya maka orang tua dapat dengan mudah memantau dan mengontrol pergaulan anankya.

ü  Orang tua harus mampu menyelesaikan masalah keluarga secara baik – baik agar anak tidak menjadi korban
Pertengkaran dan perceraian orang tua dapat menjadi suatu bencana yang besar bagi seorang anak. Mengapa demikian? Anak yang sering melihat orang tuanya bertengkar akan merasa penat yang memuncak sehingga anak mengalami stres. Seorang anak pasti mendambakan kasih sayang orang tua dan keluarga yang harmonis. Jika anak tidak mendapatkan kasih sayang itu di rumanhya maka ia akan mencari tempat lain yang bisa memberikan kasih sayang dan ketenangan yang ia inginkan.  Oleh karena itu, orang tua diharapkan menhindari pertengkaran dihadapan anak dan akan lebih baik jika orang tua menyelesaikan masalah dengan cara yang sebaik mungkin dan tidak menunujukkannya di depan anak.


Let's avoid FREE SEX!!!!

Data Fenomena FREE SEX di Indonesia Tahun 2011

Sangat mengkhwatirkan...


Sejauh ini tercatat banyak kasus free seks di Indonesia yang sebagian besar pelakunya adalah remaja. Berdasarkan hasil penelitian di lima kota di Tanah Air, 16,35% dari 1.388 responden dari kalangan remaja mengaku telah melakukan hubungan seks di luar nikah atau seks bebas. Sebanyak 42,5% responden di Kupang, NTT (Nusa Tenggara Timur), melakukan hubungan seks di luar nikah dengan pasangannya, sedangkan 17% responden di Palembang, Sumatera Selatan dan Tasikmalaya, Jawa Barat, mengaku juga melakukan tindakan yang sama. Di Singkawang, Kalimantan Barat, 9% remaja responden melakukan seks bebas dan 6,7% responden di Cirebon, Jawa Barat, juga termasuk penganut seks bebas.
(sumber: http://metro.kompasiana.com)

Kliping Fenomena Kerusakan Generasi Muda



45% Remaja Lakukan Free Sex
Tanggal: Friday, 11 May 2007
Topik: HIV/AIDS

Sindo Edisi Sore
Kamis, 10/05/2007
Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKN) M Masri Muadz menyatakan, berdasarkan hasil survei perusahaan kondom pada 2005 di hampir semua kota besar di Indonesia dari Sabang hingga Merauke, tercatat sekitar 40%–45% remaja antara 14–24 tahun menyatakan secara terbuka bahwa mereka telah berhubungan seks pranikah.

JAKARTA (SINDO) –’’Ini cukup mengejutkan. Sebanyak 60% remaja mengaku tidak mengetahui informasi tentang penyakit menular seksual. Bahkan, data BKKBN menunjukkan bahwa 60% remaja sudah ingin mendapatkan pelayanan KB. Padahal, secara aturan,ini melanggar hukum karena alat kontrasepsi hanya boleh diberikan kepada pasangan yang menikah,”ujar Masri, kemarin.

Hal itu tentu menjadi tantangan pemerintah terkait dengan persoalan narkoba dan HIV/AIDS yang banyak menyerang usia remaja. Masri menjelaskan, total jumlah pasangan usia subur sebesar 15% dari total populasi. Jumlah remaja sekitar 20% atau 60 juta orang. Sementara itu, mengenai HIV/AIDS, tercatat per Maret 2007 terdapat 8.988 kasus AIDS dan 5.640 kasus HIV positif di Tanah Air.

Fatalnya, sekitar 8 ribu atau 57,1% kasus HIV/AIDS terjadi pada remaja antara 15–29 tahun (37,8% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 62,2% terinfeksi melalui penggunaan narkoba jarum suntik). Menurut dia, angka temuan penyakit menular mematikan itu masih jauh dari angka sebenarnya.

Diperkirakan,angka riil pengidapnya adalah angka temuan dikalikan 1.000 atau sekitar 14,5 juta orang. Sekitar 8 juta di antaranya adalah remaja. Berdasarkan data Badan Nasional Narkotika (BNN), sebanyak 2,3 juta orang sudah mengonsumsi narkoba dan sebanyak 78%-nya adalah remaja.

’’Salah satu pesan kami kepada remaja bagaimana mengatakan tidak kepada sex bebas dan narkoba. Sebab, kalau sudah terjangkit, akan sulit untuk selamat,”ujarnya.

Imbas dari perilaku sex bebas, ujar Masri, setiap tahun diperkirakan ada 2,3 juta kasus aborsi, yang 20% di antaranya dilakukan remaja. Dia mengungkapkan, berdasarkan penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebanyak 27% permintaan aborsi aman dilakukan remaja.

Dia menjelaskan, informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja lebih banyak remaja dapatkan dari teman sebayanya (80%) dibandingkan orangtua atau guru. ’’Jadi mereka curhat kalau sudah melakukan hubungan seksual,kena HIV/AIDS, atau kenal narkoba kepada temannya,”ujarnya.

Karena itu, tegas dia, BKKBN membuat pusat-pusat informasi dan konseling yang dikelola remaja sendiri. Cara itu dinilai efektif dan membuat remaja menjadi lebih terbuka. Namun, orangtua dan sekolah juga harus mendukung itu agar remaja mendapatkan akses informasi yang benar tentang kesehatan reproduksi.

Hingga saat ini, pihaknya sudah membuka 2.700 pusat informasi dan konseling kesehatan reproduksi remaja (PIKRR). ’’PIKRR dibentuk sedemikian rupa ala remaja dan dikemas layaknya kehidupan remaja, melalui band musik, seni, outbound,dan lainnya,”jelasnya.

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Lalu Sudarmadi menyayangkan budaya timur masyarakat yang masih menutup mata terhadap kondisi riil yang ada pada remaja ini.Padahal, kondisi ini bisa menjadi bencana nasional untuk ke depannya. ’’Sebuah klinik bisa lebih dari 27% mendapat permintaan aborsi dari remaja yang belum menikah,’’ ucapnya.(abdul malik) 



WAH-WAH-WAH!! Lalu, bagaimana dengan keadaan fenomena seperti itu di tahun ini ya???